Di Balik Perkebunan Teh

Pagi hari di desa makmur yang terletak di dataran tinggi terasa udara sangat sejuk dan dingin berkabut tipis. Semua warga sudah berbondong – bondong berjalan dan membawa keranjang di punggung mereka. Setiap pagi mereka pergi ke kebun untuk bekerja, mata pencaharian warga setempat mayoritas sebagai petani teh. Mereka ada yang bekerja sebagai petani teh di kebun pribadi dan Sebagian bekerja di kebun teh milik pemerintah (PTPN). Mereka akan pergi ke kebun  sehabis subuh untuk mendapatkan daun yang masih muda dan segar. Pekerjaan mereka yang harus dilakukan di pagi hari membuat para petani teh ini harus bisa melawan hawa dinngin dan kabut daerah dataran tinggi ini. Mereka selalu memakai baju tebal dilapisi dengan jaket tebal, memakai celana trining Panjang, bersepatu boot tinggi selutut, memakai slayer di leher, dan topi caping (dibuat dari anyaman bambu). Umumnya mereka bekerja kelompok untuk memetik teh dalam satu lahan. Penduduk yang berkerja di perkebunan milik pemerintah hasil pemetikan daun teh langsung di setorkan ke pabrik. Selanjutnya oleh pagawai pabrik disortir dan dilakukan proses pelayuan untuk mengurangi kadar air pada daun teh. Selesai proses pelayuan dilanjutkan proses oksidasi, yang dimasukkan ke dalam ruangan untuk menghilangkan warna hijau dan membuat semakin layu (fermentasi) atau mengering. Selanjutnya akan di kemas menjadi the siap saji menggunakan mesin press agar tahan lama dan steril ketika di ekspor atau di pasarkan. Berbeda dengan pekerja teh di ladang milik sendiri, selesai memetik daun teh selanjutnya mereka akan mengeringkan teh sendiri sebelum di setorkan atau dijual ke pabrik milik PTPN (PT. Perkebunan Nusantara). Dengan adanya perkebunan dan pabrik milik PTPN ini bisa mengurangi persentase pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat desa.

Tepat pukul 10.00 para petani kebun the milik pemerintah ini pulang kerumah. Suara gemuruh para pekerja membangunkan remaja bertubuh tinggi dan kekar yang masih tertidur pulas. Hari ini ia sangat menikmati tidurnya karena sekolah masih libur semesteran. Remaja itu bernama Hendra, ia adalah anak salah satu petani teh di kebun PTPN, sebelum berkerja menjadi petani teh orang tuanya bekerja serabutan. Hendra kini masih duduk di bangku 12 Sekolah Menengah Atas (SMA), selain sekolah ia aktif dalam olahraga sepak bola. Hendra sering mendapat prestasi dari bermain sepak bola, selain prestasi non akademis ia juga pintas dalam bidang akademis. Prestasi Hendra dalam bidang akademis tidak sebanyak prestasinya di bidang non akademis. Bakat bermain bolanya tumbuh sejak kecil, ia sering membantu orang tuanya mencari rumput di lapangan untuk pakan ternak dan di sanalah ia sering melihat orang bermain bola. Waktu kecil ia beradai – andai bahwa suatu saat bisa menjadi pemain sepak bola professional. Saat Hendra kelas 4 Sekolah Dasar orangtuanya memutuskan untuk memasukkannya ke salah satu club sepak bola. Bakat yang terus di kembangkan dan di asahnya membuat ia sering mengikuti tournament sepak bola. Ia terbangun dari tidur panjangnya, membuka jendela kamar agar cahaya matahari masuk dan udara di ruangan berganti. Cuaca hari ini tidak terik, ia langsung membereskan kamar dan pergi ke kandang memberi makan kambing – kambing nya sebelum ia tinggal untuk mencari rumput. Kambing – kambing yang berada di rumah Hendra ada 6 ekor, 4 ekor kambing milik saudaranya dan 2 ekor merupakan hadiah lomba sepak bola. Selesai memberi pakan ternaknya ia langsung pergi mengendarai sepeda tuanya ke lapangan untuk mencari rumput, sesampainya di lapangan ia langsung memotong rumput dan mengumpulkannya kedalam karung yang ia bawa dari rumah. Cuaca siang ini sangat terik, Ia sudah mengumpulkan rumput sebanyak 2 karung. Reza ingin beristirahat sejenak di bawah pohon beringin. Ia melihat luasnya lapangan yang sekarang sudah sangat terawat dan tidak berhawa mencekam seperti dahulu dan sudah memiliki akses jalan yang mudah untuk menuju ketempat ini. (sambil pikirannya mengingat kejadian 5 tahun lalu)

Lapangan rumput hijau ini adalah saksi bisu atas apa yang terjadi 5 tahun lalu. Tahun di mana Hendra masih duduk di kelas 7 Sekolah Menengah Pertama dan tak kenal lelah untuk bermain bola di sini. Tentunya bersama teman – temannya, teman yang menemukan tempat tersendiri di dalam hatiku. Bagaimana pun Hendra harus melupakan masa naif itu, dimana mereka dengan angkuhnya menantang para murid SSB yang terkadang bermain di sini. Tidak perlu di ceritakan lagi bagaimana hasilnya. Melawan anak –  anak komplek yang disebut – sebut lebih manja dari anak desa saja kami tetap menang. Tapi itu bukan inti dari sebuah permainan sepak bola . Permainan yang tidak sengaja membawa mereka pada kejadian langka. Kejadian yang pada saat mereka masih kecil saja tidak mepercayai hal itu terjadi. Anak – anak seumuran dan sehalu mereka saja tidak sanggup mencernanya. Kejadian bermula di saat mereka memutuskan untuk mencari lapangan bermain sepak bola baru. Tidak ada alasan  yang mendasari mereka, mereka hanya ingin mencari suasana baru. Selain itu, salah satu teman Hendra yang bernama Dani berkata bahwa ia menemukan tempat bagus untuk bermain sepak bola. Tetapi, lapangan itu berada di seberang perkebunan teh di balik air terjun dan jalannya yang jarang di lewati warga. Tepatnya, lapangan tersebut berada di lereng gunung dan diapit oleh perkebunan teh warga. Waktu itu mereka mencoba untuk bermain sepak bola disana. Setelah mereka berjalan selama 2 jam, akhirnya mereka tiba di sana. Lapangan sepak bola ini memang tampak asri banyak tumbuhan hijau yang tumbuh tinggi dan subur mengelilingi lapangan ini, udara sangat terasa sejuk, apalagi saat bermain ketika siang hari cuaca yang terasa panas namun ketika disini tidak terlalu panas. Rumput yang dulunya terlalu lebat dan lumayan tinggi sebetis. Kondisi lapangan ini tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bermain bola disini ya meskipun dulu masih menggunakan bola plastik untuk bermain.  Sesampainya disana mereka tidak bermain bola tetapi malah asyik menikmati pemandangan yang berada di depan mata mereka dan mengeksplor tempat ini meskipun masih merasa asing bagi mereka. Kemudian, bola yang Dani bawa dan ia letakkan di tanah tiba-tiba menggelinding dengan cepat.  Hendra yang mengetahui lebih dulu langsung mengejarnya, tapi bola itu meluncur dengan kencang dan sulit untuk menyamainya. Setelah beberapa saat berlari,  Hendra tersadar akan satu hal yang janggal. Lapangan ini datar, tidak mungkin bola itu dapat menggelinding sendiri. Akhirnya Hendra berhenti berlari dan seketika bola itu juga ikut berhenti bergerak.

 

Keringat dingin menetes dari dahi Hendra. Ia langsung menengok ke belakang dan tidak mendapati teman – temannya berada disana. Hendra tidak mengetahui teman – temannya berada dimana karena ia terlalu fokus mengejar bola plastik. Tiba – tiba hawa di sekitar berubah menjadi mencekam atau menakutkan. Angin sepoi-sepoi yang berembus tenang berubah menjadi angin kering yang menusuk dadanya. Hendra kembali melihat bola itu dan tampak Dani sedang berusaha mengambil bola itu. Tiba – tiba Dani menepuk  bahu sebelah kanan Hendra dan membuatnya terkejut. Mereka sangat heran dan bingung karena tidak ada yang menendang bola itu. Dani yang berusaha berpikir positif meyakinkan Hendra mungkin bolanya tertiup angin. Hendra yang sambil menahan ketakutan yang ia alami mengiyakan perkataan Dani. Dani yang melihat Hendra menahan ketakutan langsung setengah menarik tangannya bersama dengan teman yang lain. Namun Dani sudah berhasil mengambil bola plastik dan mengajak berkumpul bersama yang lainnya. Dani terus menarik tangan Hendra sambil memboyongku ke arah kebalikan dari arah bola itu meluncur. Setelah bertemu dengan teman – temannya, mereka semua pergi namun dengan langkah berlari kecil tanpa henti hingga tiba di batas tepian perkebunan teh milik warga yang telah kami lewati sebelumnya. Entah mengapa, mereka merasa suasana hutan yang berada di balik air terjun yang gelap terasa lebih nyaman dibandingkan dengan lapang itu. Setelah berjalan setengah perjalanan menuju pulang, akhirnya Dani berbicara kepada mereka bahwa tempatnya bagus  tapi mistis. Hendra mengiyakan ucapan Dani sambil menambah kan kata tadi kamu lihat sendirikan bolanya meluncur sendiri. Dani tersenyum sambil berkata “ Tidak usah takut, selama kita bareng tidak bakal ada kejadian apa-apa kok, santai aja”. Hendra langsung membalas perkataan itu dengan tawa kecil sambil mengejek “Mau jadi pahlawan kesiangan hen”. Mereka semua langsung tertawa terbahak – bahak mendengarnya. Hendra yang tadi melamun di bawah pohon beringin sambil mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. Tersadarkan oleh hujan gerimis yang tiba – tiba turun, padahal tadi cuaca sangat cerah dan terik. Hendra langsung mengangkut 2 karung rumput yang ia dapatkan tadi menuju sepedahnya dan bergegas pulang kerumah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.