Kamado Tanjirou

OmmegaOnline – Disuatu tempat dibawah kaki gunung bersalju terdapat satu keluarga yang jauh dari kata mampu.

Dalam keluarga itu terdapat seorang ibu dan empat orang anaknya. Anak paling dewasa bernama Kamado Tanjirou, kedua adalah anak perempuan Tanjirou Muza lalu anak ke-empat Tanji dan terakhir Tanjirou Nezuko.

Mereka hidup sederhana dibawah kaki Gunung Sagiri yang terdapat sedikit penduduk. Mereka bertahan hidup dengan menjual arang ke puncak gunung dan dibawah gunung di desa seberang.

Arang digunakan oleh orang-orang untuk keperluan sehari-hari seperti api unggun ketika musim salju dan proses memasak makanan.

Pada musim salju yang cukup lebat saat itu, Tanjirou ingin menjual arang ke puncak Sagiri karena ia sudah lama tak kesana yang mungkin akan banyak orang membutuh arangnya.

Tanjirou berangkat dengan membawa sekeranjang arang buatannya dengan harapan akan terjual habis dan ia ingin membeli banyak makanan untuk persiapan pesta musim dingin dalam keluarganya. Ketika akan berangkat adik-adik Tanjirou ingin ikut bersamanya dengan merayu kakak dan ibunya agar dizinkan ikut.

Ibu dan Tanjirou tidak mengizinkan adiknya ikut karena udara diluar sana sangat dingin dan akan dapat membahayakan mereka. Tanjirou sangat menyayangi ibu dan adik-adiknya walau mereka hidup miskin, ia akan melakukan apapun agar keluarganya selalu bahagia.

Tanjirou memulai perjalanan di pagi hari dan ia akan pulang sore hari jika cuaca sedang baik namun jika cuaca kurang menguntungkan buatnya ia tetap akan pulang karena keluarganya telah menunggunya.

Sembari melambaikan tangan ia berjalan menjauh dari rumah dan ibu serta adiknya juga membalas dengan melambaikan tangan mereka. Sebenarnya ketika Tanjirou memulai perjalanannya, ia merasakan udara disekitarnya sangat tipis dan mungkin akan membuatnya pingsan jika berlama-lama diperjalanan.

Tetapi Tanjirou mengatakan pada ibunya jika ia bisa mengatasi hal itu dan ia akan beristirahat jika merasa Lelah.

Tiga jam melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai di kota atas gunung yang lumayan ramai penduduknya. Mereka sangat ramah dengan pedagang dari luar daerah seperti Tanjirou.

Mereka saling bertegur sapa dan saling menawarkan barang dagangannya bagi yang berdagang disana. Dikota itu Tanjirou menawarkan arang miliknya kepada para penduduk dan banyak sekali orang yang membutuhkan arang untuk membuat perapian di musim dingin ini.

Tidak sampai dua jam arang Tanjirou telah habis terjual dan ia akan segera pulang. Tanjirou selalu membalas keramahan orang-orang disekitarnya dengan menawarkan bantuan yang bisa ia lakukan. Terlebih lagi arangnya telah habis diborong orang-orang hingga tak bersisa.

Karena sudah cukup lama, ia bergegas pulang dan angin salju bertiup sedikit kencang. Perkiraan Tanjirou dalam menganalisa cuaca, ia tahu mungkin angin dibawah kaki gunung juga akan lebih kencang dan udaranya semakin dingin dari sebelumnya.

Meskipun begitu ia akan tetap berjalan dengan hati-hati sesuai pesan dari ibunya. Diwaktu mulai meninggalkan desa, Tanjirou berjalan seorang diri dan ia merasa tidak ada yang takut kan, ia selalu berfikir positif agar dapat terus berfikir secara jernih.

Ia memiliki kelebihan dalam indra penciuman yang menurun dari ayahnya. Ia bahkan bisa merasakan adanya bau darah yang cukup jauh ratusan meter melalui udara. Bau darah baginya adalah sebuah kesusahan dan keputus asaan.

Tanjirou tidak menyukai bau darah manusia karena bau itu dapat membuatnya menjadi berfikir negatif akan sesuatu.

Cuaca di pegunungan semakin ekstrim, Tanjirou mulai mengalami sesak nafas karena udara mulai menipis akibat salju. Ketika Tanjirou melewati sebuah rumah, ada suara yang memanggilnya dan ternyata orang itu adalah paman Mado San.

Paman Mado adalah seseorang yang tinggal mengasingkan diri karena ia tak adalah seorang petualang yang sangat mencintai alam. Ketika melihat Tanjirou yang berjalan seorang diri ditengah-tengah badai salju, ia meminta Tanjirou untuk beristirahat sebentar dan menginap dirumahnya.

Menurut pembacaan cuaca untuk paman Mado, cuaca salju seperti itu akan membunuh makhluk hidup yang berada diluar ruangan atau tanpa sebuah pelindungan.

Ketika dipanggil, Tanjirou dipanggil dan disuruh untuk beristirahat dirumah paman Mado, ia menolaknya dan tetap ingin melanjutkan perjalanan. Paman Mado terus memaksa dan mengatakan “kalau kau akan mati ditengah hutan sana tanpa ada orang yang berani menolongmu”.

Seketika Tanjirou menghentikan langkahnya dan melihat jalan didepannya yang telah dipenuhi salju tebal. Dengan penuh paksaan, akhirnya Tanjirou mau berteduh dirumah paman Mado.

Paman Mado tahu kalau Tanjirou kelalahan dan lapar setelah seharian menjual arang. Ia meberikan secangkir teh dan makanan sambil beristirahat.

Paman Mado menceritakan bahwa jangan pernah berkeliaran dikegelapan apalgi ditengah hutan karena banyak iblis yang akan muncul untuk mencari mangsa. Mereka memakan manusia untuk mendapatkan kekuatan dan iblis sangat takut dengan cahaya sinar matahari.

Tetapi Tanjirou menyangkal bahwa iblis akan sangat berbahaya dimalam hari tetapi rumah paman Mado berada hampir ditengah hutan dan hanya tinggal seorang diri dipondok berarti iblis tidak menyerang manusia yang berada dalam rumah.

Kemudia paman Mado menjawab bahwa itu belum pasti karena iblis yang kelaparan akan melakukan hal apapun untuk memburu mangsanya.

Paman Mado yang sedikit marah itu tidak ingin menjawab pertanyaan dari Tanjirou yang beruntun, lalu ia menyuruhnya untuk tidur dan mengizinkannya pulang esok hari menjelang matahari terbit.

Pagi pun telah tiba dan Tanjirou mengenakan jaketnya sebelum berangkat, tak lupa ia juga berpamitan dengan paman Mado serta mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantunya. Dengan perasaan senang Tanjirou menuruni gunung karena membawa banyak oleh-oleh dan hasil penjualan arang dikota.

Namun ditengah-tengah perjalanan Tanjirou mencium bau darah yang cukup banyak, seketika ia merasa takut dan ingin segera pulang menemui keluarganya. Nafasnya tidak beraturan dan pikirannya cemas jika cerita paman Mado semalam mungkin sedang terjadi.

Sesampainya didepan rumah, Tanjirou memanggil ibu dan adik-adiknya namun tidak ada balasan. Lalu ia pergi ke pintu samping rumah dan terkejut dengan yang ia lihat saat itu.

Mata Tanjirou terbelalak dan ia berteriak dengan keras karena ia melihat semua keluarganya bersimbah darah seperti habis dibantai monster. Tanjirou memeriksa semuanya dan tidak ada yang bernafas kecuali adiknya bernama Nezuko.

Tubuhnya masih hangat namun nafasnya hampir tidak ada. Sepertinya pembantaian terjadi pagi buta saat Tanjirou tidur lelap dirumah paman Mado. Ia tidak mengira disaat Tanjirou tertidur pulas, keluarganya dibunuh dengan sangat kejam dan itu terjadi saat Tanjirou jauh dari rumah.

Selagi tubuh Nezuko masih hangat, Tanjirou membawanya kerumah sakit untuk mendapatkan bantuan walau hanya dengan menggendongnya dan hanya bisa berlari. Saat berlari Tanjiro merasa Nezuko menghembuskan nafas dan ia berhenti untuk memastikannya.

Bukannya sadar, Nezuko malah menyerang kakaknya dan Nezuko mempunyai taring dan cakar yang mengerikan. Matanya melotot dan berusaha menggigit Tanjirou yang kelelahan setelah berlari ditengah salju.

Disaat Tanjirou terpojok dan tidak tahu apa yang terjadi pada adiknya, ia hanya mampu berteriak bahwa yang ia serang saat itu adalah kakaknya sendiri. Karena tak mampu lagi menahan ia mulai lemas dan pasrah dengan itu semua. Tiba-tiba ada seseorang yang memisahkan mereka dengan cepat dan orang itu mengatakan bahwa adiknya telah menjadi iblis.

Ia harus dibunuh dengan memenggal lehernya agar tidak meregenerasi dan menyerang orang lain. Orang itu menyebut dirinya Tomioka Giyu seorang pilar pemburu iblis. Ketika Giyu menyuruh Tanjirou membunuh adiknya, ia menolak dan mengatakan ia akan melakukan apapun agar adiknya bisa kembali menjadi manusia.

Giyu yang terkejut dengan pernyataan itu, ia ingin segera membunuh Nezuko dengan pedang nichirin miliknya. Tanjirou menahannya dan terus melindungi adiknya. Ia akan berusaha dengan cara apapun dan meminta bantuan pada Giyu agar memberi solusi untuknya.

Karena keras kepala, Giyu memberi sebuah bambu dan mengikatkan pada mulut Nezuka agar tak menggigit manusia serta Giyu juga memberi kekuatan sugesti untuknya agar bisa mengingat hal penting dalam hidunya. Lalu Giyu menyuruh Tanjirou untuk menemui seseorang bernama Tuan Otorodaki yang berada dibawah kaki gunung bagian timur.

Giyu mengatakan setelah Tanjirou sampai disana mungkin akan menemukan solusi untuk adiknya.

You May Also Like

About the Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.